Sinopsis While You Were Sleeping Indosiar Episode 2

0
80

Sinopsis While You Were Sleeping Indosiar Episode 2 Tapi Yoo Bum jelas tidak suka melihat Hong Joo akrab dengan Jae Chan. Ia mengajak Hong Joo masuk dan berkata akan berbicara dengan Jae Chan lain kali. Jae Chan tidak bisa menghalangi mereka.

Adik Jae Chan datang dan Jae Chan akhirnya memutuskan untuk pergi saja bersama adiknya yang ingin pergi ke resital piano temannya. Ia memutuskan untuk tidak mengurusi orang lain.

Tapi salju tiba-tiba turun. Ia teringat dalam mimpinya Hong Joo berkata hari kecelakaan itu Hari Valentine dan turun salju. Ia berkata pada adiknya bahwa semua terjadi persis seperti dalam mimpinya. Adiknya tentu saja menganggap semua ini omong kosong. Tapi Jae Chan berkata ia akan memastikan satu hal lagi. Satu saja.

snap-00288snap-00293

Maka ia menunggu di dalam mobil. Adiknya sampai ketiduran. Salju terus turun.

Dan seperti dalam mimpi Jae Chan, Hong Joo lupa mengunci pintu dan bergegas keluar. Sementara ibu Hong Joo keluar dari kafe tanpa ponselnya.

Jae Chan melihat Hong Joo keluar dari restoran buru-buru diikuti Yoo Bum. Dan ia melihat sendiri Hong Joo menyerahkan kunci mobilnya pada Yoo Bum. Saat mobil itu pergi ia keluar dari mobil dan berteriak menghentikan mereka. Tapi mereka tidak melihat dan mendengar Jae Chan.

Adik Jae Chan terbangun dan bertanya ada apa. Jae Chan menyuruhnya menelepon polisi agar menghentikan mobil Hong Joo (ia memberi plat nomornya). Adik Jae Chan bertanya apa kakaknya sudah gila. Jika ia menelepon polisi lalu ia harus mengatakan apa?

“Menurut mimpi kakakku, akan segera terjadi kecelakaan?! Kak, kau bersikap sangat aneh. Kenapa kau begitu peduli pada gadis itu?”

“Bukan karena aku peduli padanya. Aku hanya….aku tidak ingin ia berakhir sepertiku. Bagaimana jika Yoo Bum melimpahkan semuanya padanya (Hong Joo) seperti orang bodoh?” kata Jae Chan.

Adik Jae Chan berkata Jae Chan pasti tertekan karena bertemu kembali dengan Yoo Bum hingga bermimpi buruk mengenainya. Ia mengajak kakaknya masuk ke mobil. Jae Chan menurut dan kembali berpikir sebaiknya ia mengurus dirinya sendiri saja. Jika diteruskan ia akan seperti orang gila.

Tapi bayangan Hong Joo yang menjatuhkan diri dari atas gedung kembali mengusiknya. Ia menekan gas dan pergi dari sana. Meninggalkan adiknya yang belum sempat naik ke mobil. Ia berpacu menyusul mobil Hong Joo.

snap-00297snap-00298

Di mobil, Hong Joo meminta Yoo Bum menjaga ibunya jika terjadi suatu pada dirinya. Yoo Bum dengan senang hari berjanji untuk menjaga ibu. Hong Joo tersenyum. Berbeda dari mimpi, Yoo Bum bertanya apa yang terjadi antara Hong Joo dan Jae Chan.

Belum sempat Hong Joo menjawab, mobil mereka ditabrak dari samping. Dan berbeda dari mimpi, meski mobil sempat kehilangan kendali dan berputar-putar di jalanan, akhirnya mobil berhenti tanpa menabrak tiang. Hong Joo dan Yoo Bum juga tidak sampai pingsan.

Hong Joo menoleh dan melihat sosok Jae Chan menghampiri mereka. Jae Chan membuka pintu mobil dan bertanya apakah Hong Joo tidak apa-apa. Padahal kepalanya sendiri terluka.

Tak jauh dari kedua mobil, seseorang terlihat sangat kaget. Ia adalah Han Woo Tak, orang yang dalam mimpi tewas tertabrak mobil yang dikemudikan Yoo Bum.

snap-00308snap-00311

Jadi yang terjadi adalah perhatian Yoo Bum teralih saat berbicara dengan Hong Joo dan tak menyadari mobilnya meluncur melewati perempatan jalan. Han Woo tak sedang menyeberangi perempata. Sedangkan Jae Chan menabrak dari arah samping sebelum mobil menabrak Han Woo Tak.

Jae Chan membantu Hong Joo keluar dari mobil. Ia bertanya apakah Hong Joo baik-baik saja. Ia juga bertanya pada Han Woo Tak yang menjawab ia baik-baik saja meski nampak kaget.

Yoo Bum turun dari mobil dan bertanya apakah Jae Chan baru saja menabrak mobil mereka. Jae Chan mengiyakan, beralasan jalanan licin karena salju.

Tapi Yoo Bum tidak percaya. Ia berkata ini disengaja. Jae Chan berkilah dan meminta maaf, mengatakan mobilnya tergelincir. Yoo Bum tetap tidak percaya. Ia marah dan menuduh Jae Chan mengikuti mereka lalu menabrak mereka.

“Berani-beraninya kau berbohong padaku.”